Sebelum era satelit, GPS, dan kompas modern, lautan adalah batas terbesar yang memisahkan benua dan peradaban. Kapal laut adalah satu-satunya jembatan antar benua [00:10]. Bagaimana mungkin manusia di masa lalu berani menjelajahi samudra yang luas tanpa panduan teknologi canggih?
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya menyinggung pentingnya navigasi di lautan, tetapi juga menjelaskan fenomena bergeraknya kapal di atas air sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah.
Video dari kanal Keajaiban Al-Qur’an ini mengulas bagaimana Al-Qur’an memberikan petunjuk tentang kapal dan bintang sebagai alat navigasi jauh sebelum sains modern menemukannya.
Ilmu Navigasi Klasik dan Wahyu
Pada masa di mana ilmu pengetahuan masih sangat terbatas, petunjuk untuk navigasi datang dari alam itu sendiri. Bintang digunakan sebagai penunjuk arah di langit, dan kapal menjadi bukti bagaimana manusia dapat menjelajah dengan memanfaatkan petunjuk alam ini [00:25].
Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan fenomena kapal berlayar dalam Surah Luqman, ayat 31:
“Alam taro annal fulka tajri fil bahri binik’matillahi liyuriyyakum min ayatih inna fi dzalika laayatil likulli shbarin syak.”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menjadikan kapal berlayar di lautan. Frasa “dengan nikmat Allah” (binik’matillahi) [00:41] menunjukkan bahwa kemampuan kapal untuk mengapung dan bergerak bukanlah semata-mata hasil rekayasa manusia, melainkan anugerah dan hukum alam yang diciptakan serta diatur oleh Tuhan.
Sains Modern: Hukum Archimedes
Ilmu pengetahuan modern, khususnya fisika, menjelaskan kemampuan kapal mengapung melalui prinsip Gaya Apung yang dipopulerkan oleh Archimedes. Hukum ini menyatakan bahwa [00:18]:
Sebuah benda akan mengapung jika berat air yang dipindahkan oleh benda tersebut lebih besar daripada berat benda itu sendiri.
Meskipun kapal dibuat dari material yang jauh lebih padat daripada air (seperti besi), desainnya yang memiliki rongga udara besar memungkinkan kapal memindahkan volume air yang sangat besar, sehingga menghasilkan gaya apung yang cukup untuk menahan bobotnya.
Meskipun ilmu ini baru dirumuskan secara detail oleh sains, Al-Qur’an telah merangkumnya sebagai tanda kekuasaan Ilahi. Kapal yang besar dan berat, yang mampu membawa ribuan ton muatan melintasi samudra, adalah mukjizat teknik yang dimungkinkan oleh hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan.
Bukti Kebesaran Sang Pencipta
Hal yang paling menakjubkan adalah bagaimana seseorang di abad ke-7—pada masa ketika belum ada satelit, kompas magnetik modern, apalagi teknologi untuk mengukur kepadatan dan gaya apung—dapat menyampaikan petunjuk tentang navigasi bintang dan fenomena kapal laut sebagai tanda kekuasaan di lautan [00:52].
Ayat ini sekaligus memberikan penegasan bahwa semua fenomena yang menakjubkan ini, yang memungkinkan pelayaran dan perdagangan antar benua, adalah tanda-tanda kekuasaan Allah (liyuriyyakum min ayatih).
Keberadaan kapal laut—sebagai salah satu mukjizat teknologi yang dimungkinkan oleh hukum fisika—adalah pengingat bahwa di balik setiap penemuan dan pergerakan, ada kebesaran dari Sang Pencipta yang mengatur setiap detail hukum alam untuk kemaslahatan manusia. Ini adalah keajaiban Al-Qur’an yang mencakup ilmu pengetahuan navigasi dan fisika.