Alam Semesta yang Terus Mengembang: Sebuah Fakta Kosmik yang Terekam di Al-Qur’an
Harmoni Sempurna antara Sains Modern dan Wahyu 14 Abad Silam
Sejak zaman dahulu, manusia selalu memandang langit dan bertanya-tanya: Apakah kosmos—tempat bersemayamnya Bumi, Matahari, Bulan, dan miliaran galaksi lain—adalah sebuah entitas yang statis, tidak berubah, dan abadi? Atau, apakah alam semesta ini bergerak, dinamis, dan terus mengalami perubahan?
Jawaban ilmiah terhadap pertanyaan ini baru ditemukan secara pasti pada abad ke-20. Namun, yang jauh lebih menakjubkan, kitab suci umat Islam, Al-Qur’an, telah memberikan petunjuk yang mengejutkan tentang sifat dinamis alam semesta ini lebih dari 14 abad yang lalu [00:08].
Isyarat Al-Qur’an tentang Perluasan Alam Semesta
Dalam Surah Adz-Dzariyat, Allah SWT berfirman:
“Was-samā’a banaināhā bi’aydin wa innā lamūsi’ūn.”
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat, 51:47)
Fokus utama ayat ini terletak pada frasa “wa innā lamūsi’ūn” [00:18]. Kata lamūsi’ūn (Kami benar-benar meluaskannya/mengembangkannya) berasal dari akar kata bahasa Arab “wasi’a”, yang memiliki arti dasar “luas” atau “meluaskan” [00:23].
Dengan kata lain, Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa langit—yang dalam konteks ini dimaknai sebagai seluruh kosmos atau alam semesta—bukanlah struktur yang pasif, melainkan sebuah entitas yang secara aktif sedang diperluas oleh Allah [00:32].
Konfirmasi Sains Modern: Hukum Hubble (1929)
Selama berabad-abad, pandangan kosmologis dominan di Barat adalah bahwa alam semesta bersifat statis (tidak bergerak dan tidak berubah). Pandangan ini baru tergoyahkan pada awal abad ke-20.
Titik balik datang pada tahun 1929 [00:37], melalui penelitian seorang astronom legendaris, Edwin Hubble. Menggunakan teleskopnya yang canggih saat itu, Hubble membuat penemuan fundamental:
- Gerak Menjauh: Hubble mengamati galaksi-galaksi di luar Bima Sakti dan menemukan bahwa hampir semuanya bergerak saling menjauh dari kita dan dari satu sama lain [00:48].
- Hubungan Jarak-Kecepatan: Dia juga menemukan bahwa semakin jauh jarak suatu galaksi dari Bumi, semakin cepat ia menjauh.
Pengamatan ini kemudian dirumuskan sebagai Hukum Hubble, yang menjadi bukti empiris pertama dan terkuat tentang perluasan alam semesta [01:05].
Fenomena ini, yang sebelumnya telah diprediksi secara teoretis berdasarkan persamaan teori relativitas umum Albert Einstein [00:59], mengubah cara pandang manusia tentang kosmos secara radikal. Alam semesta bukanlah bola statis, melainkan sebuah struktur dinamis yang terus bertambah luas seiring waktu [01:15]. Hukum Hubble ini pulalah yang menjadi fondasi utama bagi Teori Big Bang, yang menjelaskan bahwa alam semesta bermula dari satu titik yang kemudian meledak dan terus mengembang hingga sekarang [01:08].
Mukjizat Lintas Zaman
Perlu ditekankan kembali jurang waktu yang memisahkan kedua fakta ini. Ayat Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 Masehi (sekitar tahun 610 Masehi) [01:22]. Pada masa itu, belum ada teknologi teleskop, apalagi pemahaman tentang galaksi di luar Bima Sakti atau teori relativitas.
Manusia saat itu belum memiliki data sains yang memadai untuk menyimpulkan bahwa galaksi saling menjauh dan alam semesta terus mengembang. Fakta ini baru ditemukan oleh ilmuwan dengan teknologi canggih 13 abad kemudian [00:37].
Pertanyaannya kemudian muncul: Bagaimana mungkin seorang Nabi yang hidup di padang pasir, jauh dari pusat ilmu pengetahuan modern, dapat mengucapkan sebuah fakta kosmik yang begitu spesifik dan akurat, kecuali jika itu adalah pengetahuan yang diwahyukan langsung oleh Pencipta alam semesta itu sendiri [01:25]?
Temuan ilmiah modern tentang perluasan alam semesta tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang kosmos, tetapi juga secara definitif membuktikan kebenaran dan keakuratan Al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang melampaui batas waktu dan pengetahuan manusia. Ini adalah bukti nyata kebesaran Allah yang tercermin dalam luasnya alam semesta [00:00].